Search

Tools yang Saya Pakai Sehari-Hari sebagai Developer + Instructor 2026

Tools yang Saya Pakai Sehari-Hari sebagai Developer + Instructor 2026

Saya sering ditanya: "Mas, laptopnya apa? Editornya apa? AI-nya pakai apa?" Saya pikir, daripada jawab satu per satu di DM, lebih baik saya tulis lengkap di sini. Ini adalah stack produktivitas saya — yang saya pakai untuk ngoding, rekam kursus, manage server, dan hidup sehari-hari sebagai developer indie.


1. Code Editor: VSCode + Extensions Wajib

Saya pakai Visual Studio Code sejak 2018 dan belum pindah. Bukan karena fanatik, tapi karena ekosistemnya terlalu nyaman.

Extensions yang Saya Install:

  • GitHub Copilot: AI autocomplete saat saya mengetik. Berguna untuk boilerplate code dan comment-to-code.
  • Cursor (VSCode fork): Untuk project baru atau saat saya butuh AI agent mode (Composer, terminal integration). Saya pakai Cursor 70% waktu sekarang.
  • ESLint + Prettier: Auto-format kode. Saya tidak mau pikir soal indentation atau quote style.
  • Thunder Client: Testing API tanpa keluar dari editor. Lebih ringan dari Postman.
  • Docker: Manage container langsung dari sidebar VSCode.
  • GitLens: Lihat siapa yang commit apa, kapan, dan kenapa. Berguna untuk project tim.

Kenapa tidak JetBrains? Saya coba WebStorm dan PHPStorm. Bagus, tapi terlalu berat untuk laptop saya (MacBook Air M1). VSCode + Cursor cukup cepat dan tidak bikin fan berisik.


2. AI Assistant: Cursor AI & Claude 3.5 Sonnet

Saya tidak pakai satu AI. Saya pakai stack AI sesuai kebutuhan:

  • Cursor AI (Composer): Untuk generate file, refactor multi-file, dan debug. Ini AI utama saya untuk coding.
  • Claude 3.5 Sonnet (via Cursor): Model paling cerdas untuk coding kompleks. Saya pilih ini di setting Cursor.
  • ChatGPT (GPT-4o): Untuk brainstorming arsitektur, menulis dokumen, atau jelaskan konsep abstrak. Bukan untuk coding langsung.
  • Perplexity: Untuk riset teknologi terbaru. Cari dokumentasi, compare tools, atau cek best practices 2026.

Pro tip: Jangan pakai AI untuk semuanya. Saya pakai AI untuk 70% kode boilerplate, tapi 30% logika bisnis tetap saya tulis manual. Itu cara saya tetap "sharp" dan tidak bergantung 100%.


3. Server & Deployment: VPS + Nginx + Docker

Ini adalah infrastruktur hidup saya. Semua project — kursus, blog, client app — jalan di sini:

  • DigitalOcean: VPS utama saya. Droplet 2GB RAM di Singapore. Cepat, stabil, murah.
  • Vultr: VPS kedua untuk experiment dan staging. $5/bulan, backup otomatis.
  • Nginx: Web server & reverse proxy untuk semua domain. Saya sudah hafal konfigurasi dasarnya.
  • PM2: Process manager untuk Node.js/Next.js. Auto-restart kalau crash.
  • Docker: Untuk project yang butuh environment spesifik. Saya containerize Laravel dan Next.js.
  • Let's Encrypt (Certbot): SSL gratis untuk semua domain. Auto-renewal.
  • GitHub Actions: CI/CD otomatis. Push ke main → deploy ke VPS dalam 2 menit.

Semua tools ini saya ajarkan praktis di kursus Belajar Server. Bukan teori — ini adalah stack yang benar-benar saya pakai tiap hari.


4. Database & Backend

  • MySQL / MariaDB: Untuk project Laravel dan CMS. Familiar, stabil, banyak dokumentasi.
  • PostgreSQL: Untuk project Next.js yang butuh fitur advanced (JSONB, full-text search).
  • SQLite: Untuk prototype dan project kecil. Zero setup.
  • Supabase: Kalau saya butuh backend cepat tanpa setup server sendiri. Realtime + auth built-in.
  • Redis: Caching dan queue. Saya pakai untuk Laravel Horizon dan session management.

5. Frontend & UI

  • Next.js 14/15: Framework utama untuk project baru. App Router, Server Components, SEO-friendly.
  • Laravel + Livewire: Untuk project admin dashboard dan CMS. Rapid development tanpa JS kompleks.
  • Tailwind CSS: Utility-first CSS. Saya tidak pernah tulis CSS custom lagi. Cukup class.
  • shadcn/ui: Komponen UI yang copy-paste-able. Bukan library — ini adalah kode yang saya own dan customize.
  • Framer Motion: Animasi halus untuk landing page. Tidak overused, hanya di tempat yang perlu.

6. Productivity & Knowledge Management

  • Notion: Project management, roadmap kursus, SOP, dan database student. Saya punya template sendiri.
  • Obsidian: Second brain. Catatan belajar, draft artikel, ide kursus. Markdown lokal, tidak perlu internet.
  • Raycast: Launcher untuk Mac. Buka app, cari file, run script, kalkulator — semua dengan shortcut keyboard.
  • Rectangle: Window management. Snap window ke kiri/kanan/fullscreen dengan shortcut.
  • AltTab: Windows-style alt-tab untuk Mac. Lebih cepat navigasi antar window.

7. Recording & Editing (Untuk Kursus)

  • OBS Studio: Screen recording. Free, powerful, bisa multi-scene. Saya setup scene untuk coding, terminal, dan facecam.
  • DaVinci Resolve: Editing video. Free, professional-grade. Saya belajar dari YouTube dalam 1 minggu.
  • Adobe Premiere (kadang): Kalau project editing kompleks. Tapi 90% saya pakai DaVinci.
  • Canva: Thumbnail kursus, grafik artikel, social media post. Cepat, tidak perlu designer.
  • Descript: Edit video dengan edit teks. Berguna untuk hapus "umm" dan jeda nganggur.

8. Communication & Community

  • Telegram: Grup alumni kursus. Support, diskusi, update. Lebih personal daripada email.
  • Discord: Community besar (kalau ada). Voice channel untuk live Q&A.
  • Google Workspace: Email professional ([email protected]), Calendar, Drive.

9. Hardware Setup

  • MacBook Air M4 (2025): 16GB RAM. Cukup untuk ngoding, editing, rekam. Tidak pernah lag. Baterai tahan 8-10 jam.
  • Monitor External 24": Untuk dual screen saat editing atau ngoding multi-file.
  • Keychron K2: Mechanical keyboard wireless. Enak untuk ngetik lama.
  • Logitech MX Master 3: Mouse ergonomic. Scroll horizontal untuk timeline editing.
  • Audio Technica ATR2100x: Microphone USB/XLR. Suara jelas untuk kursus, tidak perlu soundproof room.
  • Ring Light: Untuk facecam kursus. Biar tidak gelap.

10. Browser & Internet

  • Arc Browser: Browser modern dengan tab management yang lebih baik. Space per project, auto-archive tab.
  • Chrome: Untuk testing dan DevTools. Tetap standar.
  • Cloudflare: DNS + CDN + DDoS protection untuk semua domain. Free tier sudah cukup.

Kesimpulan: Stack Saya, Belum Tentu Stack Anda

Saya tidak bilang tools di atas adalah "yang terbaik." Ini adalah yang terbaik untuk saya — dengan budget, kebutuhan, dan workflow saya.

Yang penting bukan toolsnya, tapi konsistensinya. Saya pakai stack yang sama untuk project pribadi, client, dan kursus. Jadi saya tidak buang waktu switching context. Saya hafal shortcut. Saya tahu cara debug error. Saya tahu cara deploy dalam tidur.

Jika Anda baru mulai, jangan beli semua tools di atas. Mulai dari:

<

  1. 1 code editor (VSCode)
  2. 1 AI assistant (Cursor)
  3. 1 VPS (DigitalOcean $6)
  4. 1 framework (Next.js atau Laravel)

Sisanya? Tambah perlahan saat Anda butuh. Jangan jadi "tool collector" — jadi "tool master."

Dan kalau Anda ingin belajar cara setup, konfigurasi, dan optimasi tools server di atas — Nginx, Docker, PM2, SSL — semuanya saya ajarkan step-by-step di kursus Belajar Server. Bukan dari buku tebal, tapi dari praktik nyata yang saya jalani tiap hari.

— Zulfianto, May 2026

ZULFIANTO ..

ZULFIANTO ..

Sejak tahun 2014 saya menjadi seorang Internet marketer, mentor BelajarServer.com, Web Desain, Kelas Email Marketing, Founder Mautic Academy Indonesia ,Konsultan dan layanan jasa Email marketing dan Founder e-Jasa Digital Marketing.

Pengalaman Anda di situs ini akan ditingkatkan dengan memungkinkan kebijakan cookie